Shalat Tanpa Khusyu' Tak Ubahnya Nikah Tanpa Cinta

Sholat yang telah diwajibkan oleh Allah SWT, itu punya dua demensi.
Pertama : Demensi dzahiriyah, yaitu terpenuhinya syarat dan rukun shalat, mulai dari wudlu, menutup aurat, menghadap qiblat, niat, dan takbiratul ihram kemudian membaca al-fatihah sampai salam dengan penuh thuma’ninah serta bacaan yang benar.

Kedua : Demensi bathiniyah, yaitu kesadaran seseorang bahwa dengan shalat itulah dia sedang menghadap kepada Allah SWT dengan memahami menyadari, merasa bahwa ketika shalat itu sedang menghadap Allah SWT, maka seorang hamba dituntut untuk penuh adab, tenang, mengagungkan Dzat yang sedang kita sembah penuh tatakrama, konsentrasi, khusyu’, memahami apa yang kita baca serta menyadari apa yang sedang kita kerjakan. Itulah sikap kesadaran kita kalau kita sedang menghadap Allah SWT dan itulah yang dinamakan ruhnya shalat. Dengan kata lain kita shalat dengan khusyu'.

Demensi yang pertama menentukan sah atau tidak sahnya shalat yang kita kerjakan, berbeda dengan demensi kedua yang fungsinya menentukan tarkabul atau tidaknya shalat yang sudah dihukumi sah tersebut.

Apabila orang itu hanya khusyu, tapi tidak shalat, ibaratnya dia seorang yang cinta tapi tidak nikah. Sebaliknya, apabila dia shalat tetapi dia tidak khusyu’, tidak merasa kalau dirinya sedang dihadapan Allah SWT, maka dia! ibarat orang nikah tapi tidak cinta. Masing-masing tidak sempurna. Pada intinya kalu ingin sempurna keduanya harus nyata. Sebab kalau kita shalat saja tapi tidak khusyu' itu hanya menggugurkan kewajiban shalat saja tanpa mendapat pahala.

Adapun ukuran khusyu itu sendiri bisa anda pahami dari kitab para ulama atau bisa baca piss-ktb.com