Budaya Madura Mulai Tersisih Oleh Budaya Luar

Bercara mengenai masyarakat Madura, Fennomena yang hingga saat ini berkembang adalah stereotyping semau gue, bahkan disimplifikasi sebagai tukang carok yang selalu menyebarkan kekerasan. Anekdot dan humor yang merepresentasikan keterbelakangan mereka ini sering muncul dalam perbincangan di berbagai forum santai maupun serius. masyarakat tersebut sebagai masyarakat marginal, terbelakang dalam hampir berbagai aspek kehidupan. Mereka nyaris diidentikkan dengan orang yang kurang berpendidikan, kasar, keras, kurang tahu tata pergaulan sosial.

Saat sains dan teknologi –termasuk informasi –mengalami perkembangan pesat, joke yang berkembang tentang masyarakat Madura juga terkait dengan persoalan itu. Intinya menandaskan tentang kegagapan mereka dalam menyikapi simbol-simbol utama modernitas. Mereka hidup berdampingan dengan penanda kemajuan dunia kontemporer itu, namun pada saat yang sama mereka dianggap tidak (belum) mampu memanfaatkan, memaknai, apalagi mentrasformasikannya ke dalam realitas kehidupan mereka.

Prasangka berbau etnis itu tentu tidak seluruhnya benar, tapi secara prinsip juga tidak seluruhnya salah. Realitas menunjukkan, ada beberapa pandangan, pembawaan, sikap, dan perilaku orang Madura saat ini yang memang kurang kondusif bagi pengembangan kehidupan mereka vis-a-vis dunia kontemporer. Hal ini tentu perlu dibincang secara kritis dan arif agar kehadiran modernitas dengan sains dan teknologinya, seperti Jembatan Suramadu, berdampak positif bagi mereka. Modernitas diharapkan dapat mengantarkan mereka menuju kehidupan lebih bermakna bagi mereka sendiri, bangsa dan umat manusia secara keseluruhan. 

Perbincangan ini begitu urgen karena modernisasi yang saat ini menampakkan diri melalui globalisasi dengan segala dampak yang dibawanya tidak selalu berwajah ramah dan bermanfaat positif bagi manusia dan kehidupan. Sebab manusia yang ada dibelakang modernitas –kendati bukan merupakan satu-satunya penentu –memiliki peran signifikan untuk menentukan wajah dan dampak modernisasi. Melalui diskusi dan pencanderaan yang akurat terhadap masyarakat Madura, serta upaya penyikapan dan pemanfaatan Jembatan Suramadu dengan segala proyek dan kegiatan yang mengekornya, upaya pencarian kebijakan yang tepat untuk menjadikan mereka sebagai salah satu subyek dalam program ini diharapkan dapat tergambar dengan jelas.


Modernitas dan Globalisasi: Antara Ancaman, Tantangan dan Peluang

Saat ini modernitas merupakan realitas yang nyaris menyatu dengan kehidupan umat manusia. Ditolak atau tidak, ia akan tetap hadir di hadapan masyarakat mana pun. Karena itu persoalannya bukan lagi apakah modernitas akan ditolak atau deterima, tapi bagaimana modernitas disikapi, dimaknai, dan dikembangkan dalam kehidupan. 

Penyikapan ini sangat mendesak diangkat ke ruang publik dan dikaji bersama karena modernitas dengan dasar utamanya rasionalisasi (bisa) menampakkan diri dalam –minimal –dua aspek yang berseberangan; di depan berwajah malaikat penolong, tapi di bagian belakang (dapat) menjadi setan yang mengerikan. Memodifikasi ungkapan Armstrong, budaya modernitas jelas telah memberdayakan manusia, membukakan dunia baru, memperluas horizon manusia, dan memberikan kemampuan kepada sebagian mereka untuk hidup lebih berbahagia dan lebih sehat. Namun pada saat yang sama, budaya modern juga memaksakan tuntutan yang serba sulit kepada manusia. Modernitas telah mengabaikan harga diri manusia.

[1] Hal ini berpulang pada ketergantungannya kepada logos (rasionalisasi). Padahal rasionalisasi semata tidak mampu menangkap secara utuh keseluruhan eksistensi kedirian manusia. Sebagai contoh konkret, melalui rasionalisasi beberapa kelompok manusia mampu menangkap rahasia-rahasia alam sehingga mereka dapat menguasai alam dan kehidupan. Penguasaan subyektif ini –menurut Soroush –memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengubah dunia dan pandangannya mengenai dirinya. Mereka lalu menganggap diri mereka sebagai tuan rumah, pemilik, (dan bahkan arsitek) alam dan kehidupan. Dalam kondisi seperti itu, mereka lebih mengedepankan hak-hak tinimbang sebagai hamba Tuhan yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab.

[2] Mereka lalu kurang peduli, bahkan mengabaikan terhadap keberadaan yang lain. 
Dalam bayang-bayang buram modernitas ini globalisasi lalu hadir memperteguh proyek modernitas dengan dampaknya yang bersifat ganda pula. Sebagai anak modernitas, globalisasi selain telah memberikan banyak sumbangan positif bagi kehidupan masyarakat dunia, dalam banyak hal ia mengalami amnesia sehingga membawa dampak negatif. Globalisasi telah berkembang menjadi sistem tidak manusiawi, bahkan cenderung dehumanisasi dengan produk universalitas palsunya berupa disintegritas dan kemiskinan. Secara asumtif, globalisasi akan bergerak menuju kesatuan umat manusia melalui hubungan yang melampaui batas-batas wilayah, negara, etnis, dan agama. Namun dalam praktik, ia justru mengabaikan realitas partikularitas dan memaksakan homogenitas budaya. Dengan demikian, identitas budaya, etnis, dan sebagainya terancam oleh bentuk imperialisme budaya dari kelompok yang menguasai dan mengendalikan modernitas dan globalisasi.

[3] Orang dan kelompok yang pertama kali menjadi korban adalah mereka yang tidak akrab dan tidak menguasai ikon-ikon modernitas tersebut.  
Lebih dari itu, universalitas globalisasi juga berdampak pada terjadinya marginalisasi terhadap kelompok miskin (juga yang terbelakang pendidikannya, aa) melalui penyingkiran mereka dari komunitas dan dari hak mereka untuk berpartisipasi dalam pemanfaatan sumber alam. Proses ini menjadikan kaum miskin kian tertindas

[4] dan yang tidak berpendidikan terpinggirkan. Dengan demikian, globalisasi bisa menjadi proyek penyebarluasan kemiskinan karena paradigma yang dianut adalah menghasilkan sebanyak mungkin produk, tapi dengan sesedikit mungkin pekerjaan.

[5] Di belakang itu globalisasi mengembangkan kekuatan yang dari saat ke saat mereduksi kekuatan politik negara, apalagi yang bersifat lokal dan sejenisnya. Tanpa respon yang tepat, dampak negatif globalisasi akan terus menggurita tanpa dapat dihentikan lagi oleh siapapun juga, termasuk negara.  

Ancaman tersebut tentu bukan bersifat harga mati. Semua itu sangat tergantung kepada umat manusia yang ada dan terlibat di belakangnya. Modernitas dan globalisasi akan memetamorfosis menjadi peluang untuk pengembangan kesejahteraan kehidupan manakala orang, komunitas, dan masyarakat memiliki visi dan komitmen kuat dalam pengembangan nilai-nilai luhur agama, kemanusiaan universal, budaya dan tradisi luhur. Pada saat yang sama mereka juga memiliki akses yang luas untuk masuk ke pusaran globalisasi dan modernitas dan mampu menguasainya. 

Konkretnya, pencapaian ini mengandaikan adanya manusia yang memiliki moral yang tinggi dan sekaligus kemampuan pengetahuan dan penguasaan ketrampilan memadai, serta wawasan yang luas. Dalam konteks itu, kita perlu melihat kesiapan-tidaknya masyarakat Madura untuk menjadi manusia-manusia semacam itu yang mampu menjadikan jembatan Suramadu dan modernitas sebagai peluang sebesar-besarnya bagi pemberdayaan dan kemajuan kehidupan mereka dalam berbagai aspeknya.  
  
Oleh : Hasbullah Kafa Beh