Keseharian Rasulullah Dalam Berbusana Makan Minum Dan Tidurnya

Dalam hal berbusana: Rasulullah amat sederhana, jauh dari kesan mewah. Busana ini sekedar untuk melindungi badan dari cuaca ekstrem. Orang yang tidak memakai pakaian mewah, sedangkan ia mampu melakukannya, Allah memanggilnya di hadapan makhluk, berhak memilih pakaian apapun.

Pakaian yang paling disenangi Rasulullah adalah gamis. (HR. Abu Dawud).

Sesekali Rasulullah mengenakan busana qithri yang diselempangkan di bahu, seperti diceritakan shahabat Anas bin Malik. Qithri adalah sejenis kain bertahan katun kasar, kain berasal dari Bahrain, Qatar.

Riwayat lain dari Anas bin Malik, "Pakaian yang paling disenangi Rasulullah adalah hibarah (kain katun produksi yaman) HR. Al-Bukhari.

Ujung kain dari gamis Rasulullah hanya sampai pertengahan betis, tidak sampai melewati pergelangan kaki.

Diriwayatkan Dari Abi Hurairah, "Sesungguhnya Allah tidak akan memandang orang yang menjuntaikan kainnya dengan kecongkakan." HR. Muslim.

Untuk warna pakaian Rasulullah senang warna putih (Hadis riwayat Tirmidzi, an-Nasai dan ahmad).

Nabi tidak suka pakaian warna merah dan yang dicelup dengan pewarna. Nabi juga tidak suka pakaian bergambar sekira mengganggu kekhusyu'an orang yang salat.

Rasulullah selalu berdoa sebelum berbusana. Banyak riwayat berbeda perihal doa mengenakan pakaian yang diajarkan Rasulullah.

Rasulullah memiliki sorban berwarna hitam, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil tapi berukuran sedang. Sebagaimana cerita shahabat Jabir. Ujung sorban Rasulullah menjulur di bawah dagu untuk melindungi leher dari cuaca dan juga menahan agar tidak terjatuh saat berkuda.

Rasulullah memiliki sapasang khauf (kaos kaki dari kulit hewan digunakan saat musim dingin) berwarna hitam pekat pemberian raja Ethiopia.

Rasulullah sehari-hari mengenakan sandal (terompah), kedua sandalnya memiliki tali qibal. Yaitu tali di bagian muka dan dijepit dua jari. Ketika memakai sandal Nabi mendahulukan kaki kanan, dan melepas dengan kaki kiri terlebih dahulu. Seperti riwayat Abi Hurairah.

Rasulullah juga terlihat mengenakan cincin perak yang juga berfungsi sebagai stempel surat. Ada ukiran tertera di cincin Nabi tersebut. Dalam ukiran itu tertera 'Muhammad' satu baris, 'Rasul' satu baris dan 'Allah' satu baris. Nabi melepas cincinnya jika hendak masuk toilet.

Perihal Makan Minum Rasulullah: Sebelum dan sesudah makan Rasulullah berdoa dan makan dengan tangan kanan. Tidak makan atau minum sambil berdiri. Rasulullah makan dengan tiga jari (jari tengah, telunjuk dan ibu jari). Setelah itu Nabi terbiasa menjilati ketiga jarinya.

Keluarga Nabi sering makan roti sya'ir dan tidak pernah memakannya sampai kenyang. Sya'ir adalah roti gandum paling rendah mutunya. Kadang kala dibuat makanan ternak, namun jika dihaluskan bisa menjadi olahan makanan yang sedap rasanya.

Nabi menyukai saus cuka dalam makannya. Beliau tidak pernah makan di atas meja. Serta tidak pernah makan roti gandum halus hingga wafat. Nabi suka memakan buah labu (Cucurbita moschata Durch), sebagaimana disebutkan oleh Anas bin Malik.

Menurut penuturan Sayidah Aisyah, Nabi gemar memakan kue manis dan sangat suka madu. Jika disuguhi daging, Rasulullah mengambil bagian dzir'an, yaitu bagian antara dengkul hingga bawah kaki dan memakan sebagian saja. Terkadang Nabi juga memakan qitsa' (sejenis mentimun) dicampur kurma yang baru masak. Seperti dikisahkan oleh Aisyah.

Untuk minuman, Rasulullah sangat suka air zam-zam. Sesekali Rasulullah minum minuman manis dingin. Seperti dikisahkan oleh Aisyah. Rasulullah memiliki wadah minum khusus yang terbuat dari kayu dan dililiti kawat. Seperti penuturan Anas bin Malik kepada Tsabit.

Perihal Tidurnya: Rasulullah tidur di awal malam dan menghidupkan akhir malam. "Rasulullah benci tidur sebelum salat Isya', berbincang-bincang setelahnya." Posisi tidur Nabi miring kanan, meletakkan kedua tangan di bawah pipi (HR Abu Dawud), dan Nabi membenci tidur tengkurap. Sebelum tidur, Rasulullah berwudhu seperti halnya mau salat, dan beliau selalu berdoa sebelum tidur.

Sebelum tidur Nabi meniup tangan dan membaca surat Al-ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, kemudian di sapunya seluruh badan yang bisa dijangkau. Mulai dari kepala, wajah dan seluruh anggota tubuh yang bisa dijangkau kedua tangan, beliau melakukan hal ini sebanyak tiga kali.

Saat bangun tidur, beliau duduk sambil mengusap wajah dengan tangannya, menghirup air ke dalam hidung lalu menyemprotkannya. Nabi juga suka membersihkan mulut ya dengan siwak. Sebagaimana Hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Demikian semoga segala jejak langkah beliau menjadi teladan bagi kita amin..!

Dicopast dari kultweet pondok pesantren @sidogiri Pada hari jumat (02/01/2015)