Penjelasan Ilmiyah Syar'iyah Syaikhina KH. M. Najih Maimoen Tentang Peringatan Tahun Baru Masehi

PENJELASAN ILMIAH SYAR’IYAH SYAIKHINA KH. M. NAJIH MAIMOEN TENTANG PERINGATAN TAHUN BARU MASEHI

بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْمِ

الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن والصَّلاةُ والسَّلامُ على رَسُولِه الكَرِيم ونَبِيّهِ مُحَمَّد اْلأَمِيْن وعلى آلِهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ الْمَهْدِيِّيْن ، أما بعد.

Tahun baru selalu identik dengan tiupan terompet, pesta kembang api, hingar-bingar pertunjukkan musik, pesta pora di hotel-hotel dan tempat wisata, hingga ucapan “Selamat Tahun Baru” atau “Happy New Year” bertebaran dimana-mana. Malam tahun baru menjadi kesempatan terjadinya berbagai kemaksiatan. Lebih jauh lagi, masih banyak sekali masyarakat khususnya umat Islam yang ikut merayakan tahun baru masehi tersebut tanpa tahu bagaimana hukumnya menurut agama Islam dan bagaimana sejarah munculnya perayaan tersebut.

Menurut Syari’at Islam, hukum perayaan tahun baru masehi melihat sejarah dan bagaimana perayaan tersebut dilakukan adalah haram, setidaknya karena tiga alasan:

– Alasan pertama, Tasyabbuh bil kuffar wal fussaq (menyerupai orang-orang kafir dan fasiq). Hal ini dilihat dari sejarah perayaan tahun baru tersebut yang berasal dari tradisi umat Kristiani. Perayaan tahun baru tanggal 1 Januari ini ditetapkan pertama kali oleh kaisar Romawi Kristen yaitu Julius sebagai persembahan kepada Janus, yaitu dewa segala gerbang, pintu, dan permulaan (waktu). Maka perayaan tahun baru ini adalah perayaan umat Nasrani, dan umat Islam diharamkan mengikuti perayaan agama lain. Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِهِمْ فِيْ نَيْرُوْزِهِمْ وَمِهْرَجَانِهِمْ حُشِرَ مَعَهُمْ

“Barangsiapa menyerupai sebuah kaum dalam tahun baru dan pesta mereka, maka dia akan digiring bersama mereka.” (Syaikh Abu Abbas Wansyarisi al-Maliki, al-Mi’yar al-Mu’arrab, juz 11 hlm. 152-150)

Maka haram bagi umat Islam ikut menyemarakkan, menjual pernak-pernik tahun baru, memberikan ucapan selamat tahun baru, dan sebagainya. Dalam bahasa Ibn Hajar dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah (juz 4 hlm. 229) hal ini termasuk bid’ah yang paling buruk.

– Alasan kedua, perayaan tahun baru adalah ajang untuk melakukan kemaksiatan seperti konser-konser musik, pacaran muda-mudi, minum-minuman keras, perzinaan, perjudian, dan munculnya berbagai tindak kejahatan seperti tawuran, pencurian. Maka ikut menghadiri, mengumpulkan uang, dan memfasilitasi perayaan tahun baru adalah haram karena sama saja membantu terlaksananya kegiatan maksiat (i’anah ‘ala al-ma’shiyah).

– Alasan ketiga, dalam perayaan tahun baru seringkali ada kegiatan yang menghamburkan-hamburkan harta (idla’atul mal) seperti pesta kembang api, pawai di tengah jalan yang menghalangi hak pengguna jalan, dan sebagainya. Padahal Allah telah berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء : 27]

“Orang-orang yang menyiakan hartanya adalah saudaranya setan, dan setan adalah ahli kufur kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)

Rasulullah ShallaLlahu ‘alaihi wa Sallama bersabda:

مِنْ حُسْنِ إسلامِ المَرءِ تركُهُ ما لا يعنيه

“Termasuk tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”

Dari pertimbangan diatas, maka sudah seharusnya umat Islam tidak ikut-ikutan merayakan malam tahun baru masehi ini, tidak menganggapnya sebagai hari yang spesial bagi umat Islam, dan menganggapnya sama seperti hari-hari biasa. Saat perayaan tahun baru tiba, umat Islam hendaknya tetap berada di rumah dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif seperti belajar, membaca, beribadah, berdoa kepada Allah, dan sebagainya. Atau boleh saja berkumpul dan makan-makan bersama keluarga dan teman dengan tetap menghindarkan diri dari maksiat dan tabdzir (menghamburkan uang).

Adapun pemerintah berkewajiban mengawal dan memperketat perayaan tahun baru sehingga disana tidak menjadi ajang kemaksiatan dan kejahatan merajalela. Karena itu surat himbauan dari beberapa pemimpin daerah agar tidak melaksanakan kegiatan perayaan tahun baru secara berlebihan dan tidak menyelenggarakan acara maksiat bahkan ada yang tidak memperbolehkan acara tersebut diselenggarakan di daerahnya patut diapresiasi. Umat Islam harus belajar munculnya berbagai bencana alam di seantero negeri ini seperti gempa dan tsunami di Aceh, NTB, Palu, Lampung, Selat Sunda, pantai Anyer, angin topan di Bekasi, dan sebagainya. Ini adalah peringatan keras dari Allah agar kita sadar dan mau bertaubat serta beristighfar dari kemaksiatan yang merajalela di sekitar kita.

Akhiran, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar umat Islam dan bangsa ini selalu diberi petunjuk oleh Allah agar selalu menjalankan Syari’ah-Nya, dijauhkan dari maksiat, malapetaka, serta dipersatukan hatinya untuk selalu kumanthil kepada Allah dan agama Islam ‘ala Ahlissunnah wal Jama’ah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. WaLlahu A’lam. (*)

Sarang, 31 Desember 2018

KH. M. NAJIH MAIMOEN

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2302841386453487&id=100001829449551