Mengupas Pendidikan Keagamaan Di Zaman Sekarang Untuk Pesantren Dan Masyarakat

بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْمِ
الحمْدُ لله ربِّ العَالَمِيْن والصَّلاةُ والسَّلامُ على رَسُولِه الكَرِيم ونَبِيّهِ مُحَمَّد اْلأَمِيْن وعلى آلِهِ الطَّاهِرِيْن وأَصْحابِهِ الْمَهْدِيِّيْن ، أما بعد.
Pendidikan pesantren selalu menjadi kajian menarik, bukan hanya karena memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan pendidikan lainnya, namun juga karena kaya akan konsep-konsep yang selalu relevan dibandingkan dengan pendidikan umum. Keberadaannya sebagai lembaga pendidikan Islam di tanah air mempunyai andil yang sangat besar dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia. Dalam kehidupan bangsa Indonesia, pesantren memiliki potensi keberagaman dalam berbagai hal, baik kultur maupun sosial, yang dapat menyatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pesantren juga merupakan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya mendidik pada pencerahan akal (kecerdasan emosional) saja, akan tetapi juga mendidik terhadap pencerahan jiwa (kecerdasan spritual) dan pembentukan akhlak karimah (kecerdasan sosial). Pesantren tradisional (salaf) merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat diperhitungkan dalam mempersiapkan ulama masa depan, sekaligus sebagai garda terdepan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern.
Ada sebuah cerita menarik, pada suatu hari, Nyai Khoiriyah putri Hadrotussyaikh mbah Hasyim Asy’ari istri KH. A. Muhaimin bin KH. Abd. Latif Lasem, silaturrahmi ke Hadrotussyaikh KH. Maimoen Zubair. Beliau dawuhan dan berpesan kepada mbah yai Maimoen, mewanti-wanti supaya pondok pesantren Sarang jangan di rubah-rubah, biarlah tetap salaf, karena kalau pondok pesantren sudah berubah kurikulumnya, maka akan sulit untuk kembali ke salaf, seperti pondok Jombang. Begitulah kira-kira dawuhnya Nyai Khoiriyyah kepada Mbah Yai Maimoen. Al-Hamdulilah, di Sarang pendidikan formalnya tidak dicampur dengan yang salaf.
Perlu diketahui, bahwa sejak dulu keberadaan pesantren salaf mampu mencetak ulama-ulama handal, seperti Syaikh Nawawi Banten pengarang Kitab Tafsir Munir dan Nihayatuzzain, Syaikh Mahfudz Termas, pengarang kitab Manhaj Dzawi Annadhor dan Mauhibatu dzi al Fadli, Syaikh Hasyim Asy’ari pengarang kitab Risalah Ahlussunnah wal-Jama’ahIrsyadul Mu’mininAn-Nurul MubinAudlohul Bayan, dll. Syaikh Ihsan Jampes dengan karyanya Siroj at-Thalibin syarh Minhajul Abidin, karya Imam Ghozali, ad Durru al Farid syarh manzhumah jauharuttauhidal Kawakib al Lama’ah wa syarhuha, karya Syaikh Abu Fadlol Senori Tuban yang keberadaannya diakui dunia internasional.
Kemudian agar santri mengenal perkembangan Global-Kekinian, maka pesantren telah menampilkan kajian-kajian kitab kontemporer karya ulama-ulama ahlussunnah madzahib arba’ah seperti kitab al-Fiqhu al-Manhaji karya Dr. Mushthofa al-Khin, Mushthofa al-Bugho, Ali al-Syarbaji, as-Salafiah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun la Madzhabun IslamiyunFiqhussirohKubrol YaqiniyatDlowabitul Mashlahahkarya Sa’id Romadlon al-Boethi, Rowa’iul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam Minal Qur’an karya Syaikh Muhammad Ali al-Shobuni, al-Fiqh al-Islami karya Wahbah Zuhaili, Mafahim Yajibu an TushohhahManhajussalaf fi fahmi an-nushush Baina al-Nadhoriyah wa al-TathbiqMuhammad al-Insan al-KamilSyaroful Ummah al-MuhammadiyyahSyari’atullah al-Kholidah, dll. karya Abuya as-Sayyid Muhammad al-Maliki.
Sebenarnya sebagian ilmu umum sudah diajarkan di pesantren, seperti ilmu Falak, ilmu Balaghoh, ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Hisab (ilmu yang perannya vital dalam ilmu Faro’id) yang kesemuanya itu dijadikan sebagai alat untuk memahami al-Qur’an, al-Hadits dan kitab-kitab salaf. Begitu juga dalam al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab salaf sudah ada sebagian dari pembahasan-pembahasan ilmu umum, sains, teknologi dan ekonomi, seperti dalam ayat:
وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ [الحديد: 25]
Dari dalil di atas, para ulama menyatakan bahwa mempelajari ilmu-ilmu ataupun pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madlorot termasuk fardlu kifayah. Artinya kalau sudah ada yang mempelajarinya, maka sudah mencukupi, bukan serta-merta harus berbondong-bondong semua umat Islam digiring untuk menjalankannya apalagi mewajibkannya kepada setiap individu umat Islam yang terkesan hal itu termasuk fardlu ‘ain, juga tidak harus terkekang oleh sebuah konsep atau sistem tertentu apalagi sistem sekolah dengan kurikulum ala filsafat Barat-Amerika yang sesat dan menyesatkan, dan dalam mempelajarinya pun harus berniat untuk menunaikan fardlu kifayah sehingga mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Termasuk dampak negatif dari kurikulum pemerintah terhadap budaya pesantren adalah semakin memudarnya keikhlasan bertholabul ilmi dan khidmah kepada ahlul ilmi, terkikisnya sikap tawadlu’, andap ashor, nurut kepada kyai, sopan santun, berubah menjadi sikap mudah mengkritisi, mengkritik kebijakan dan dawuhnya kyai dan asatidz, mereka menganggap kyai hanya sebatas pemilik pondok atau yayasan, ikhtilath antara lelaki dan perempuan, budaya camping, pramuka, pacaran dan lain sebagainya. Sehingga tanpa disadari, kalau pesantren menerima kurikulum tersebut maka mereka telah terjebak dalam budaya rancangan Yahudi dan Salibis. Perlu diketahui, bahwa hampir keseluruhan ilmu umum itu sekuler (terpisah dari akidah tauhid) karena tidak pernah menyebut Allah sebagai al-Kholiq/Sang Pencipta (persis paham Dahriyyah). Diantaranya mengatakan bahwa langit tidak ada yang ada hanyalah atmosfer saja, kiamat hanyalah proses alam, planet bumi dan planet-planet lainnya sudah ada sejak berjuta-juta ribu tahun alias alam ini dzatnya qodim seperti paham falasifah yang kufur, baik teori evolusi atau revolusi. Begitu juga teori Darwin yang kufur itu, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa adanya kekuatan berdiri sendiri di alam ini dan mengatakan kehidupan tidaklah diciptakan tetapi muncul karena kebetulan, manusia berasal dari kera dan masih banyak lagi.
Menyikapi ilmu-ilmu umum diatas, kita harus selalu mengingat dan memegangi dua bait karya Syaikh Ahmad ad-dardir dalam Manzhumah al-Kharidatul Bahiyyah:
وَمَنْ يَقُلْ بِالطبْعِ أَوْ بِالعلَّة ** فَذَاك كفرٌ عِندَ أهلِ الْمِلَّة
وَمَنْ يَقُلْ بِالْقُوَّةِ الْمُوْدَعَةِ ** فَذَاكَ بِدْعِيٌّ فَلَا تَلْتَفِتِ
Menurut kami, Thabi’atIllat dan Quwwah Dzatiyah itu satu paket, artinya jika seseorang menyakini kejadian di alam raya ini murni karena ketiga faktor tersebut (tanpa ada campur tangan izin Allah SWT), maka hukumnya kafir, namun jika ada campur tangan izin Allah SWT, atau meyakini Quwwah Muda’ah, maka hukumnya sebagai pelaku bid’ah. Kenapa ilmu seperti itu kita bela-bela melebihi ilmu agama padahal ilmu agama adalah penyelamat iman dan Islam (jalan kebahagiaan dunia akhirat), dan ilmu di atas adalah penyebar kekufuran (jalan kehancuran dunia akhirat). Pesantren yang sudah mapan dengan sistem salafnya, biarlah tetap eksis dan wajib kita jaga dan dukung keberadaannya.
Adapun pesantren yang sudah kadung ada umumnya atau pesantren-pesantren modern, universitas-universitas, itu sifatnya dharurat untuk nasyrul ilmi(sebab zaman sekarang memaksa punya ijazah), dan harus diupayakan untuk mengadopsi kitab-kitab salaf, syukur kalau bisa porsi kesalafan itu diperbanyak sehingga berimbang bahkan kalau perlu melebihi ilmu umumnya. Dan lagi, anak didiknya harus diajari niat belajar yang benar, jika yang dipelajari ilmu agama, maka harus ikhlas lillahi ta’ala, namun jika yang dipelajari ilmu umum seperti IPA, IPS, Matematika dan sejenisnya, maka boleh diniati duniawi (ijazah), akan tetapi lebih baik diniati isti’anah ala i’anatil muslimin fi syu’unihim. Para guru dan pendidik juga harus demikian, mereka mengajar ilmu agama di sekolahan umum harus lillahi ta’ala murni karena ridlo Allah SWT, tidak usah memedulikan besar kecilnya gaji, bahkan berkomitmen terus mengajar mesti tidak digaji. Hendaknya gaji yang bersumber dari iuran siswa ditasharrufkan untuk menafkahi keluarga, dan gaji yang bersumber dari Pemerintah, hendaknya digunakan untuk bayar listrik, PDAM, Pajak, BBM, Pulsa, dan kebutuhan-kebutuhan non konsumtif. Mungkin beginilah penjelasan dari maqolah yang sering didawuhkan oleh KH. Maimoen Zubair, “Awakmu sekolah opo wae, sing penting ojo ninggalno ngaji” seraya mengutip:
حَقٌّ على العاقلِ أَنْ يكونَ عارفا بِزَمَانِهِ، حَافِظا للسانهِ، مُقْبِلًا علَى شأنهِ
Dalam konteks sekarang, Aarifan bizamanihi beliau artikan memakai system sekolahan, sedangkan muqbilan ala sya’nihi diartikan melestarikan ilmu-ilmu agama dengan huruf arab pegon di sela-sela sekolah atau di luarnya (di dalam pesantren selain jam sekolah).
Keunikan pesantren salaf yang tidak dimiliki oleh lembaga selain pesantren adalah adanya barokah, selama para santri mampu untuk berkhidmah kepada para masyayikh dan pondok dengan ikhlas dan didukung oleh kealiman dan kewira’ian para pengasuhnya, pesantren salaf akan selalu bisa beradaptasi dengan zaman, ikut andil dalam mengusir penjajah dan mewujudkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, dikarenakan para pengasuh dan pengelolanya masih berpegang pada nilai-nilai dan tradisi-tradisi kesalafan. Kesalafan ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan untuk membendung segala bentuk penjajahan masa kini, baik penjajahan aqidah seperti paham Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme, Komunisme, Ahmadiyah, Syi’ah, NII, dan lainnya, penjajahan ekonomi seperti Neo-Liberalisme atau pro asing-aseng, dan dekadensi moral seperti narkoba, minuman keras, sabu-sabu, ekstasi, pelacuran, kebebasan bergaul, seks bebas, pacaran, semakin maraknya warung remang-remang, warung kopi plus-plus, diskotik dan lain-lainnya yang keberadaannya seakan-akan dilegalkan oleh pemerintah. Sebaliknya kalau pesantren sudah berubah menjadi modern, maka keteguhan Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan barokah tersebut akan pudar dengan sendirinya, yang tinggal hanyalah ketenaran dunia, pesantren hanya sebagai wadah untuk mencari fasilitas dan materi. Masuk pesantren tidak lagi bertujuan untuk mencari keselamatan dunia akhirat, selamat dari pemikiran dan alirat sesat, tapi bertujuan untuk mendapatkan gelar dan ijazah.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh kurikulum umum melalui sistem sekolahannya, juga telah disinyalir oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad ash-Shiddiq al-Ghumari dalam sebuah kitabnya Muthobaqotul Ikhtiro’at al-Ashriyah. Beliau menyitir hadits yang berbunyi:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَنْصَارِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنِ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ كَثْرَةُ القُرَّاءِ وَقِلَّةُ الفُقَهَاءِ وَكَثْرَةُ الأُمَرَاءِ وَقِلَّةُ الأُمَنَاءِ. [أخرجه الطبراني]
Mengenahi hadits di atas, Sayyid al-Ghumari mengatakan bahwa penyebab fitnah tersebut ialah menjamurnya sekolah-sekolah umum dengan sistem produk penjajah Barat yang malahirkan alumni-alumni yang mahir dalam urusan keduniaan saja tanpa dibarengi pengetahuan tentang ilmu akhirat, lihai dalam urusan duniawi tapi bodoh akan agama mereka, sehingga dunia ini dipenuhi orang-orang yang ahli pidato saja, sedangkan ulama’nya semakin berkurang.
Hendaknya para penyelenggara pendidikan keagaamaan mengupayakan biaya murah, agar tidak memberatkan beban umat sebab, karena biaya murah merupakan ciri khas kesalafan, Rasulullah SAW bersabda;
الرَّاحمونَ يرحمهمُ الرحمنُ، ارحموا من في الأرض يرحمُكمْ مَنْ في السماءِ (أخرجه أبو داود والترمذي)
Selain dari pada itu, pesantren harus mempertahankan pendidikan ala Aswaja-nya, guna membendung penjajahan pendidikan yang massif dilancarkan oleh kaum Salafi-Wahhabi, PKS, dan HTI. Juga jangan terjerumus dalam ide Islam Nusantara, karena sejatinya ide tersebut belum jelas konsepnya, kurikulum dan silabus pendidikan Islam Nusantara saja masih simpang siur. Sudah berkali-kali kami membahas tema Islam Nusantara. Intinya kami berkesimpulan, jika yang dimaksud Islam Nusantara adalah Islam ala amalan-amalan Aswaja, maka itu dapat diterima. Namun jika sebaliknya, sebagaimana yang sudah masyhur digembar-gemborkan oleh para pengusungnya, maka jelas harus ditolak, karena sudah keluar dari jalur nafas pendidikan pesantren.
Kami ingat waktu kecil sebelum mondok ke Makkah, yaitu mauidloh Kyai Ali Ma’shum Lasem pada acara Haul mbah Ma’shum Lasem. Beliau mengulangi perkataan seorang peniliti barat; “Kenapa Islam di Indonesia masih kuat?” Peneliti tersebut mengatakan; ada dua faktor yang menyebabkannya. Pertama masih konsisnya pengajian umum, tahlilan, muludan, al barjanzi, dibaiyyah dan lain sebagainya, karena dengan moment acara tersebut bisa menjadi ajang silaturrahmi antara kyai dan ummat. Dan ini bisa menimbulkan kekuatan yang luar biasa, ummat merasa terayomi, dibimbing langsung walaupun kyai tersebut sekedar hadir, tidak sampai bermauidloh juga tidak berdoa. Yang kedua, masih konsisnya pengajian turutan (al Qur’an). Orang-orang yang dulu berkerja dan menjadi pegawai di pemerintah kolonial Belanda, walaupun mereka diintimidasi, diajak kufur, diajak kristen, disuruh murtad, mereka keberatan, karena keimanan mereka tumbuh kembali saat terngiang-ngiang suara kyai yang mengajar turutan atau al-Qur’an. Menurut kami, dua faktor tersebut disebabkan berkahnya pendidikan pesantren salaf waktu dulu yang istiqamah dengan pengajian kitab-kitab salafnya, yang sepi dari tujuan materi, tidak memprioritaskan ujian akan tetapi fokus pengajaran harian, dan selalu konsis mengajarkan bacaan al-Qur’an, dzikir, shalat berjamaah serta budaya ro’an (kerja bakti), khidmah kepada masyayikh dan pondok. Tentunya, hal-hal tersebut akan lebih mewujudkan kekuatan luar biasa, menumbuhkan kekuatan iman, mencapai hidayah Allah SWT.
Keberadaan madrasah-madrasah diniyyah kelas lima dan enam pun dihabisi dan digilas oleh kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler sekolah-sekolah pagi (SD dan SMP) sehingga banyak anak didik madrasah yang keluar dan tidak bisa melanjutkan pendidikannya di madrasah diniyyah, ditambah lagi tekanan program Full Day Scholl akhir-akhir ini, yang telah dipraktekkan oleh sebagian sekolahan-sekolahan di berbagai tempat. Semoga hal ini menjadi pertimbangan Menteri Pendidikan atau instansi-instansi yang terkait untuk memberi instruksi agar anak didik madrasah diniyyah tetap melanjutkan pendidikannya tanpa dibebani atau diganggu oleh pelajaran dan kegiatan ekstra tersebut. Pesantren yang sudah salaf biarlah tetap salaf dan wajib kita dukung, seperti pondok kita ini Al-Anwar I dan MGS, karena Syaikhina Maimoen Zubair dalam banyak kesempatan (llqo’ul mawa’idz acara Harlah, Akhirussanah, Maulidiyah) mewanti-mewanti agar tidak merubah kesalafan di Al-Anwar I dan MGS. Kalau pesantren salaf dipaksa untuk mengikuti kurikulum moderen, maka hilanglah pesantren yang selama ini menjadi benteng aqidah, syari’at, akhlaq Ahlussunnah wal Jama’ah.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر: 1-3]
Sarang, 6 Rabi’ul Awwal 1440 H
14 November 2018 M
KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN

Sumber : Ribat DH Al Anwar